Berawal dari sebuah sms yang mampir ke hapeku, rabu malam waktu setempat (wmpt, waktu mpt), bunyinya kurang lebih gini: "Gus, besok tmn2 ngumpul di lapangan kraton, jam 9 pagi, datang ya…”, Langsung aja kubalas tu sms: ”Mau maen bola ya Non, apa jam 9 pagi itu gak kesiangan…?”
Karena tidak (belum) punya kendaraan, aku pun sms beberapa teman untuk numpang (boncengan) datang ke acara jam 9 itu. Namun siapa sangka yang menjemputku malah si Dave, dengan sedan putihnya pula. Dia membukakan aku pintu mempersilahkan aku masuk, hehehe gak benar. Yang benar aku membuka sendiri pintu mobilnya dan memaksa ikut numpang ke acara jam 9.
 |
| Bersama Mursit, Esti, Ayu dan .... Yanti |
Meski agak terlambat akhirnya kami berangkat menuju lapangan kraton. TAPI, setelah sampe disana, lapangan tsb kosong melompong. “Apa teman2 sudah selesai main bola ya Dave..?” tanyaku pada Dave. Dave pun menjawab: “Lha nek kowe takon aku, trus aku takon sopo Gus..?”, Wkwkwk…
Husnudhon bahwa acara main bola tidak molor, kami beranggapan bahwa kami terlambat, dan teman2 sudah selesai main bolanya. Sekarang nggak tw kemana. Untuk memastikan, aku coba hubungi si memet: “Wet, acara main bolanya udah selesai ya.., katanya jam 9…?”. Tak berapa lama pun hapeku kembali berbunyi, si Mewet menjawab: "Belum Guss, ni aku masih nungguin eyang putri di kantor pos…”
Dari dalam sedan putihnya si Dave, aku melihat beberapa pemain bola seliweran di depanku, tapi karena aku bukan panitia pertandingan bola ini aku ya diem aja, Cuma memperhatikan aja. Tapi waktu eyang putri datang aku pun memberanikan diiri untuk memanggilnya, karena beliau panitia acara ni.
“Halo eyang, kok pemain bolanya tidak ada yang datang, tadi aku lihat beberapa pemain, namun karena aku bukan panitia pertandingan ini aku ya diam aja. Lagian aku juga tidak yakin mereka pemain2 kita, karna udah gak bertemu 7 tahun lebih”. Walhasil, karena tidak ada pemain lain yang datang, akhirnya kami menyusul si mursal yang tadi di serahi tugas menyusul es the. Di rumah es teh , yg hanya beberap meter dari rumahku, dicapai kesepakatan (dengan sedikit intervensi dariku) bahwa kita berlima akan ke Sarangan, telaga eksotik kebanggan ki mageti. Dengan sedikit intervensi lagi, aku memaksa tidak hanya ke sarangan tapi ke air terjunnya (aku kan suka banget ke air terjun, hehehe…).
Tepat pukul 12.30 wmpt, after dhuhur’s, kita berlima berangkat ke rumah ki mageti. Si Dave gak bisa ikut karena ada keluarganya yg datang dari kampung halamannya. Ada tiga riders yang memenuhi kualifikasi kecepatan minimum moto GP untuk menjinakkan kuda besi: aku, mursal dan es the. Akhirnya dengan kecepatan maksimal kami bisa mencapai tepi telaga saringan ditengah teriknya sang surya yg over memancarkan pesonanya.
Udara panas menyengat berganti dengan udara panas menyegarkan begtu kami memasuki area ki mageti. Meski sama-sama panas, tapi kali ini lebih segar karena tekanan udara sudah turun seiring ketinggian altitude (benar gak sih..?). Naik lebih ke atas lagi yang terasa malah dinginnya, sedangkan udara panasnya udah lupa kemana…
 |
| Foto Esti & Ayu |
Sarangan memang rame, tapi kami tidak patah arang. Dengan sedikit intervensi lagi, aku memaksa agar sepeda kita diparkir di luar saja, biar tantangannya lebih kerasa dengan berjalan lama (semi-long trekking). Dengan begini, ke empat temanku akan bisa merasakan nikmatnya menjadi pedestrian, untung gak menenteng carrier atau backpack, cuma tas selempang kecil nan ringan.
“Jangan mengambil sesuatu kecuali foto”. Pepatah itu kami terapkan sebaik-baiknya. Anytime and anywhere, teman2ku tidak akan menyia-nyiakan pose siap jepret: di depan air terjun, di jembatan, Hmmm….